Friday, April 10, 2009

Kalau Perbuatan Itu Baik, Niscaya Rasulullah saw Mencontohkan Lebih Dulu

Kalau Perbuatan Itu Baik, Niscaya Rasulullah saw Mencontohkan Lebih Dulu

Ada sekelompok golongan yg suka membid’ah-bid’ahkan (sesat) berbagai kegiatan yang baik di masyarakat, seperti peringatan maulid, isra’ mi’raj, yasinan mingguan, tahlilan dll. Kadang mereka berdalil dengan dalih,

Agama ini telah sempurna. Jika perbuatan itu baik, niscaya Rasulullah saw telah mencontohkan lebih dulu.

Atau mengatakan,

Itu bid’ah , karena tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Atau,

jikalau hal tersebut dibenarkan, maka pasti Rasulullah saw memerintahkannya. Apa kamu merasa lebih pandai dari Rasulullah?

Mem-vonis bid’ah sesat suatu amal perbuatan (baru) dengan argumen di atas adalah lemah sekali.Ini kerana alasan itu sebenarnya adalah perkataan yang keluar dari perasaan ego takabbur dan sombong orang kafir, sebab kalau diperhatikan perkataan itu sebenarnya telah diucapkan oleh orang -orang kafir yang bersikap membangga diri dan merasakan kebaikan (Islam )itu adalah mikiknya sahaja seperti firmanNya bermaksud " dan berkatalah orang kafir itu (dengan bongkaknya ) kalaulah (beriman dengan Quran itu)suatu kebaikan tentulah mereka (umat Islam )tidak akan dapat mendahului kita kepadanya" al Jathiah ayat 14 malah ada berbagai amal baik yang Baginda Rasul saw tidak mencontohkan ataupun memerintahkannya. Teriwayatkan dalam berbagai hadits dan dalam fakta sejarah.

1. Hadis riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. berkata kepada Bilal ketika shalat fajar (shubuh),

“Hai Bilal, ceritakan kepadaku amalan apa yang paling engkau harap pahalanya yang pernah engkau amalkan dalam masa Islam, sebab aku mendengar suara terompamu di surga. Bilal berkata, “Aku tidak mengamalkan amalan yang paling aku harapkan lebih dari setiap kali aku berssuci, baik di malam maupun siang hari kecuali aku shalat untuk bersuciku itu”.

Dalam riwayat at Turmudzi yang ia shahihkan, Nabi saw. berkata kepada Bilal,

‘Dengan apa engkau mendahuluiku masuk surga? ” Bilal berkata, “Aku tidak mengumandangkan adzan melainkan aku shalat dua rakaat, dan aku tidak berhadats melaikan aku bersuci dan aku mewajibkan atas diriku untuk shalat (sunnah).” Maka Nabi saw. bersabda “dengan keduanya ini (engkau mendahuluiku masuk surga).

Hadis di atas juga diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia berkata, “Hadis shahih berdasarkan syarat keduanya (Bukhari & Muslim).” Dan adz Dzahabi mengakuinya.

Hadis di atas menerangkan secara mutlak bahwa sahabat ini (Bilal) melakukan sesuatu dengan maksud ibadah yang sebelumnya tidak pernah dilakukan atau ada perintah dari Nabi saw.

2. Hadis riwayat Bukhari, Muslim dan para muhaddis lain pada kitab Shalat, bab Rabbanâ laka al Hamdu,

dari riwayat Rifa’ah ibn Râfi’, ia berkata, “Kami shalat di belakang Nabi saw., maka ketika beliau mengangkat kepala beliau dari ruku’ beliau membaca, sami’allahu liman hamidah (Allah maha mendengar orang yang memnuji-Nya), lalu ada seorang di belakang beliau membaca, “Rabbanâ laka al hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fîhi (Tuhan kami, hanya untuk-Mu segala pujian dengan pujian yang banyak yang indah serta diberkahi).

Setelah selesai shalat, Nabi saw. bersabda, “Siapakah orang yang membaca kalimat-kalimat tadi?” Ia berkata, “Aku.” Nabi bersabda, “Aku menyaksikan tiga puluh lebih malaikat berebut mencatat pahala bacaaan itu.”

Ibnu Hajar berkomentar, “Hadis itu dijadikan hujjah/dalil dibolehannya berkreasi dalam dzikir dalam shalat selain apa yang diajarkan (khusus oleh Nabi saw.) jika ia tidak bertentang dengan yang diajarkan. Kedua dibolehkannya mengeraskan suara dalam berdzikir selama tidak menggangu.”

3. Imam Muslim dan Abdur Razzaq ash Shan’ani meriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata,

Ada seorang lali-laki datang sementara orang-orang sedang menunaikan shalat, lalu ketika sampai shaf, ia berkata:
اللهُ أكبرُ كبيرًا، و الحمدُ للهِ كثيرًا و سبحانَ اللهِ بكْرَةً و أصِيْلاً.

Setelah selesai shalat, Nabi saw. bersabda, “Siapakah yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi?

Orang itu berkata, “Aku wahai Rasulullah saw., aku tidak mengucapkannya melainkan menginginkan kebaikan.”

Rasulullah saw. bersabda, “Aku benar-benar menyaksikan pintu-pintu langit terbuka untuk menyambutnya.”

Ibnu Umar berkata, “Semenjak aku mendengarnya, aku tidak pernah meninggalkannya.”

Dalam riwayat an Nasa’i dalam bab ucapan pembuka shalat, hanya saja redaksi yang ia riwayatkan: “Kalimat-kalimat itu direbut oleh dua belas malaikat.”

Dalam riwayat lain, Ibnu Umar berkata: “Aku tidak pernah meningglakannya semenjak aku mendengar Rasulullah saw. bersabda demikian.”

Di sini diterangkan secara jelas bahwa seorang sahabat menambahkan kalimat dzikir dalam i’tidâl dan dalam pembukaan shalat yang tidak/ belum pernah dicontohkan atau diperintahkan oleh Rasulullah saw. Dan reaksi Rasul saw pun membenarkannya dengan pembenaran dan kerelaan yang luar biasa.

Al hasil, Rasulullah saw telah men-taqrîr-kan (membenarkan) sikap sahabat yang menambah bacaan dzikir dalam shalat yang tidak pernah beliau ajarkan.

4. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, pada bab menggabungkan antara dua surah dalam satu raka’at dari Anas, ia berkata,

“Ada seorang dari suku Anshar memimpin shalat di masjid Quba’, setiap kali ia shalat mengawali bacaannya dengan membaca surah Qul Huwa Allahu Ahad sampai selesai kemudian membaca surah lain bersamanya. Demikian pada setiap raka’atnya ia berbuat. Teman-temannya menegurnya, mereka berkata, “Engkau selalu mengawali bacaan dengan surah itu lalu engkau tambah dengan surah lain, jadi sekarang engkau pilih, apakah membaca surah itu saja atau membaca surah lainnya saja.” Ia menjawab, “Aku tidak akan meninggalkan apa yang biasa aku kerjakan. Kalau kalian tidak keberatan aku mau mengimami kalian, kalau tidak carilah orang lain untuk menjadi imam.” Sementara mereka meyakini bahwa orang ini paling layak menjadi imam shalat, akan tetapi mereka keberatan dengan apa yang dilakukan.

Ketika mereka mendatangi Nabi saw. mereka melaporkannya. Nabi menegur orang itu seraya bersabda, “hai fulan, apa yang mencegahmu melakukan apa yang diperintahkan teman-temanmu? Apa yang mendorongmu untuk selalu membaca surah itu (Al Ikhlash) pada setiap raka’at? Ia menjawab, “Aku mencintainya.”

Maka Nabi saw. bersabda, “Kecintaanmu kepadanya memasukkanmu ke dalam surga.”

Demikianlah sunnah dan jalan Nabi saw. dalam menyikapi kebaikan dan amal keta’atan walaupun tidak diajarkan secara khusus oleh beliau, akan tetapi selama amalan itu sejalan dengan ajaran kebaikan umum yang beliau bawa maka beliau selalu merestuinya. Jawaban orang tersebut membuktikan motifasi yang mendorongnya melakukan apa yang baik kendati tidak ada perintah khusus dalam masalah itu, akan tetapi ia menyimpulkannya dari dalil umum dianjurkannya berbanyak-banyak berbuat kebajikan selama tidak bertentangan dengan dasar tuntunan khusus dalam syari’at Islam.

Kendati demikian, tidak seorangpun dari ulama Islam yang mengatakan bahwa mengawali bacaan dalam shalat dengan surah al Ikhlash kemudian membaca surah lain adalah sunnah yang tetap! Sebab apa yang kontinyu diklakukan Nabi saw. adalah yang seharusnya dipelihara, akan tetapi ia memberikan kaidah umum dan bukti nyata bahwa praktik-prakti seperti itu dalam ragamnya yang bermacam-macam walaupun seakan secara lahiriyah berbeda dengan yang dilakukan Nabi saw. tidak berarti ia bid’ah (sesat).

5. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab at Tauhid,

dari Ummul Mukminin Aisyah ra. bahwa Nabi sa. Mengutus seorang memimpin sebuah pasukan, selama perjalanan orang itu apabila memimpin shalat membaca surah tertentu kemudian ia menutupnya dengn surah al Ikhlash (Qulhu). Ketika pulang, mereka melaporkannya kepada nabi saw., maka beliau bersabda, “Tanyakan kepadanya, mengapa ia melakukannya?” Ketika mereka bertanya kepadanya, ia menjawab “Sebab surah itu (memuat) sifat ar Rahman (Allah), dan aku suka membacanya.” Lalu Nabi saw. bersabda, “Beritahukan kepadanya bahwa Allah mencintainya.” (Hadis Muttafaqun Alaihi).

Apa yang dilakukan si sahabat itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi saw., namun kendati demikian beliau membolehkannya dan mendukung pelakuknya dengan mengatakan bahwa Allah mencintainya.

Setelah baginda Nabi saw wafat pun amal-amal perbuatan baik yang baru tetap dilakukan. Umat islam mengakuinya berdasar dalil-dalil yang shahih. Simak berbagai contoh berikut,

1. Pembukuan al Qur’an. Sejarah pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an. Bagaimana sejarah penulisan ayat-ayat al Qur’an. Hal ini terjadi sejak era sahabat Abubakar, Umar bin Khattab dan Zaid bin Tsabit ra. Kemudian oleh sahabat Ustman bin ‘Affan ra. Jauh setelah itu kemudian penomoran ayat/ surat, harakat tanda baca, dll.

2. Sholat tarawih seperti saat ini. Khalifah Umar bin Khattab ra yang mengumpulkan kaum muslimin dalam shalat tarawih berma’mum pada seorang imam. Pada perjalanan berikutnya dapat ditelusuri perkembangan sholat tarawih di masjid Nabawi dari masa ke masa.

3. Modifikasi yang dilakukan oleh sahabat Usman Bin Affan ra dalam pelaksanaan sholat Jum’at. Beliau memberi tambahan adzan sebelum khotbah Jum’at.

4. Pembukuan hadits. Bagaimana sejarah pengumpulan dari hadits satu ke hadits lainnya. Bahkan Rasul saw pernah melarang menuliskan hadits2 beliau karena takut bercampur dengan Al Qur’an. Penulisan hadits baru digalakkan sejak era Umar ibn Abdul Aziz, sekitar tahun 100 H.

5. Penulisan sirah Nabawi. Penulisan berbagai kitab nahwu saraf, tata bahasa Arab, dll. Penulisan kitab Maulid. Kitab dzikir, dll

6. Saat ini melaksanakan ibadah haji sudah tidak sama dengan zaman Rasul saw atau para sahabat dan tabi’in. Jamaah haji tidur di hotel berbintang penuh fasilitas kemewahan, tenda juga diberi fasiltas pendingin untuk yang haji plus, memakai mobil saat menuju ke Arafah, atau kembali ke Mina dari Arafah dan lainnya.

Masih banyak contoh-contoh lain.Ini kerana sahabat amat faham dengan panduan agama yang terkandung dalam firmanNya bermaksud "apa yang dibawa oleh Rasulullah itu ambil dan amalkan dan apa yang dilarangnya maka jauhi dan tinggalkanlah al Hasyr ayat 7
jadi perkara yang tidak dilarangnya dan tidak dibawanya malah didiamkan bukan kerana lupa itulah kema'afan dan kelunggaran serta rahmat Allah untuk hambaNya sesuai dengan hadis Rasulullah yang di bawa oleh Imam kita Nawawi ra. dalam kitab arba'innya
Wallahu a’lam.

Kenapa salaf dan siapa salaf sebenarnya?

Kenapa salaf dan siapa salaf sebenarnya?

Setiap orang tidak memadai dengan pengakuannya sebagai muslim saja, kerana ungkafan itu terlalu umum dan luas, merangkumi semua umat Islam, termasuk Islam yang mendapat jaminan atau tidak termasuk golongan yang menganut fahaman Muhammad Abdul Wahab, termasuk Islam khwarij, Qadyani, muktazilah dan lainnya .

Jadi lebih tepat sekiranya pengakuannya hanya sebagai muslim salafi sahaja kerana fahaman salaf dan golongan salafi ini telah diakui sebagai umat yang diakui oleh rasulullah sallallahu ‘alai wa sallam sebagai jenerasi terbaik dan selamat iaitu jenerasi dalam tiga atau lima abad selepas kewafatan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam .Ini berdasarkan hadisnya yang memperakui “bahawa sebaik-baik qurun itu qurunku kemudian qurun yang selepas itu kemudian qurun sesudah itu”Dari sinilah di fahami bahawa tiga qurun atau lima qurun sesudah itu dinamakan qurun salaf dan jenerasi terbaik yang di jamin selamat oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam .Selaras dengan firman Allah bermaksud “dan mereka yang awal (beriman) dari kalangan Muhajrin dan Ansor dan pengikut merekadengan baik Allah telah meredhai mereka mereka juga meredhai Allahdan (Allah ) sediakan untuk mereka (ganjaran ) syurga yang (penuh ni’amat ) dan kekal didalamnya “ al Taubah ayat 100 .

1

Oleh yang demikian jenerasi sahabat dan jenerasi tabi’in , juga jenerasi tabi’in tabi’in sesudahnya dikenali sebagai jenerasi salaf (orang yang terdahulu)yang diakui selamat dan masuk syurga, begitu juga mereka yang mengikuti jijak langkah mereka dengan baik sahingga hari kamudian . Justeru itu golongan ulama yang lahir dalam qurun tersebut seperti Hasan Basri ,Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafie , Imam Ahmad, radia llahu ‘anhum dipanggil mereka sebagai ulama salafusalih dan mereka yang mengikutinya di kira kompolan yang selamat dan Berjaya . Adapun ulama yang timbul pada abad ketujuh dan sesudahnya seperti Ibnu Taimiah ,Ibnul Qayyim Ibnu Abdil Wahab dan selepasnya bukan dari golongan salaf , tentulah pengikut mereka itu bukan dari pengikut salaf . Sesuai dengan hadis Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang masyhur itu bermaksud “ akan berpecah umatku kepada 73 kumpulan semuanya keneraka melainkan satu kumpulan saja ia itu kumpulan yang berpegang dengan sunahku dan sunah para sahabatku HR Abu Daud Tarmizi dan lainnya . Dalam riwayat lain diperintahnya kita berpegang kuat dengan sunahnya dan sunnah penggantinya(khulafaa) yang rasyidin “ .

Jelaslah bahawa golongan salaf dan pengikutnya yang baik itulah ,yang akan selamat dan berjaya Pengikutnya dengan baik itulah yang diakui sebagai muslim ahlusunah yang merupakan majority umat Islam di dunia hari ini .Dalam hadis sahih yang lain diakui sebagai kompolan umat yang sentiasa berada atas jalan kebenaran yang tidak akan menggugatkan mereka oleh arus penyelewengan (kesesatan)mereka (kompolan) serpihan yang menyalahi mereka hingga hari kiamat, hadis sahih Bukhari&Muslim .Di akhir-akhir ini ramai yang mengakui mereka adalah pengikut ulama salaf ,tetapi adakah pengakuan mereka itu benar atau palsu belaka, atau bertujuan untuk menyesatkan orang ramai sahaja ,kerana mereka (orang awam ini ) mudah terpeperangkap dengan kepalsuan yang dibawa mereka itu .


Disini marilah kita pastikan satu-satu ajaran yang dibawa kompolan tadi , adakah ianya benar-benar atau cuma kepelsuan belaka , nama sahaja menarik dan mempesunakan , untuk mempengaruhi siapa yang mendengarnya ,tetapi ajaran dan isinya adalah penipuan belaka .Dinagara kita ini terdapat banyak ajaran yang cuba diserapkan Tetapi bila dibandingkan dengan ajaran aswj yang merupakan jalan perdana (siratal mustaqim) amatlah jauh berbeza dan pelik lagi aneh , contohnya dalam isu akidah bayak kesamaran yang mereka perkenalkan Seperti Allah itu bertempat berangguta dan sebagainya , mereka terikut-ikut dengan ayat-ayat mutasyabih, sedangkan dengan tegas Allah mengingatkan kita “bahawa mereka yang cuba mengikuti apa –apa yang kesamaran dari ayat tersebut , itulah tandanya mereka yang ada penyakit (zaigh) dalam hatinya kerana mencari fitnah” Ali Imran 7 .Begitu juga apa yang dijelaskan oleh Rasulullah sallallahu ‘alahi wa sallam sabdanya bermaksud “kiranya ada mereka yang terikut-ikut dengan apa yang kesamara dari ayat mutasyabih, itulah orangnya yang dimaksudkan dalam ayat tadi(mereka yang berpenyakit hatinya) , sebab ayat mutasyabih tadi mengandungngi banyak makna dan artinya, ada yang kesamaran dan memberi wahamkan persamaan Allah yang qadim itu, dengan makhluk yang baru sedangkan Allah itu Tuhan yang tidak menyerupai dengan suatu apa pun “ maksud firmanNya pada ayat 11dari surah al Syura .

Jadi para salaf mensucikan Allah dari makna kesamaran tadi dan menyerahkan maksud sebenar kepada Allah atau mentakwelkan maksudnya sesuai dengan apa yang di jelaskanNya dalam ayatnya yang lain yang labih sesuai dengan kebesaranNya seperti istawa dikatakan berkuasa atas segala hamba (dan makhluNya seperti maksud firmanNya pada surah al An’aam ayat 61.Dalam hadis kudsi riwayat Bukhari muslim ada mengatakan “Aku sakit tetapi kamu tidak sudi menziarahiKu,lalu bertanya hamba itu, bagaiman dapat aku menziarahiMu sedangkan Kmu itu Tuhan semasta alam ?firman Allah tidakkah kamu ketahui disana terdapat hambaKu yang sakit dan lapar kamu tidak pergi menziarahinya , sekiranya kamu pergi menziarahinya pasti kamu dapati aku (rahmatKu) ada bersamanya- al hadis.


Oleh itu fahamlah kita bahawa dalam ungkapan perkataan hadis tadi terdapat perkataan majaz (kiasan) atau pinjaman sahaja (kinayah ) kerana mustahil Allah bersipat dengan kekurangan (sakit atau menyerupai makhlukNya bertempat berangguta berjisim dan sebagainya), mereka (kaum musyabbihah tadi akan bertanya bagaimana pula dengan pengakuan kita bahawa Allah Maha mendengar lagi Maha melihat bukankah itu juga penyerupaan Allah dengan makhluk?. kita tahu bahawa sipat mendengar dan melihat Allah itu merupakan sipat kesempurnaan (kamalat)bagi Allah dan kita yakin bahawa Allah wajib bersipat dengan segala sipat kemalat, dan itu bukan berarti penyerupaan Allah dengan makhlukNya kerana mendengar dan melihat Allah itu bukan melalui alat(mata dan telinga ) seperti makhlukNya malah melihat dan mendengar dengan sipat samak dan basarNya , bukan dengan mata dan telinga yang terbatas ini , bahkan Allah mendengar dan melihat dengan sipat samak dan basarNya akan segala yang maujudat ini, dan mustahil dariNya segala kekurangan seperti buta dan tuli atau melihat dan mendengar dengan mata dan telinga dan sebagainya, seperti apa yang difahami oleh kaum musyabbihah tadi yang mana Allah melihat dengan mata dan mendengar melalui telinga, seperti hal yang dimiliki manusia ini .

Disinilah titik perpisahan kita dengan golongan sesat tadi ,kerana mereka tidak mahu menerima perkataan majaz dalam dalil ( (nas Quran hadis ) lalu di terimanya segala perkataan itu adalah hakiki(benar) belaka , kalau macamtulah fahaman mereka, tentulah Allah itu bersipat dengan sipat makhluk yang baru dan lemah ini, berangguta, sakit, berjisim bertempat dan sebagainya dan segala macam kesamaran yang terdapat pada perkataan ayat mutasyabihat .Sedangkah Allah sendiri telah membahagikan ayat –ayat itu ada dua , ada yang muhkamnya dan selainnya ada ayat yang mutasyabihat seperti apa yang dapat difahami dari ayat7 dari surah ali Imran tadi .

Bagi kita tentulah antara dua kadaan ayat yang berlainan itu penerimaan kita juga berlainan dan tidak boleh disamakan , kiranya ada makna dan maksud yang lebih sesuai dengan kebesaran Allah atau mensucikanNya dari sebarang penyerupaan yang telah di nafikanNya pada ayat muhkam tadi pada surah al Sura ayat 11 atau ayat 4 pada surah al Ikhlas dan lainnya


Dari hadis kudsi tadi pun sudah diselitkan jawapannya iatu Allah tidak munkin dapat dilawati atau diziarhi kerana Maha suci Allah dari ruang dan tempat berjisim dan sebagainya, sahingga dapat di ziarahi atau sebagainya seperti akidah yang diyakini firaun laknatullah itu .Sebenarnya maksud dari perkataan itu semua hanyalah mengenai kasih sayang dan rahmatNya kepada hambaNya yang menerima ujian dariNya dengan sabar dan redha dengan ujian Tuhannya .Sebab itu siapa yang menziarahi mereka yang sakit lapar dan sebagainya tadi, akan beroleh sama rahmat kasih sayang, dan keampunanNya .

Untuk panduan kita orang awam ini bagi mengenali siapa salaf yang sebenar , iaitu mereka yang dapat mengikuti ajaran Quran hadis dengan baik dan berpandukan ajaran aswj yang merupakan ajaran perdana dan diterima oleh majority umat Islam diseluruh dunia hari ini, mereka tidak membid’ahkan amal kebajikan yang di terima pada satu-satu masyarakat jauh sekali dari menyesatkan umat islam dalam perkara khilafiah dan adat resam mereka yang tidak bertentangan dengan ajaran agama ,mereka amat bencikan perpecahan dan permusuhan .

Ajaran yang mereka anuti adalah saksama saimbang dan masra serta penuh berhikmat . Akidah mereka adalah suci dan bersih dari sebarang penyelewengan atau pelik dan sayz sesuai dengan pertunjuk al Quran hadis dan jejak salafussaleh ridwanullai ‘alaihim ijma’in . Ayat muhkam itu difahami secara jelas maknanya , tidak perlu sebarang takwelan lagi , maka fahaman mereka terhadap ayat yang mutasyabih itu, yang mengandungi banyak makna lagi kesamaran pula ada yang sesuai dan ada yang kesamaran ,sikap kaum aswj tentulah memilih makna yang sesuai dan layak dengan kebesaranNya dan menulak makna kesamaran (penyerupaan Allah dengan yang baru) . Wabillahi taufiq wal hidayah wassalam .

Monday, March 30, 2009

Hukum Menghadiahkan Pahala Al-Quran kepada Si Mati

Hukum Menghadiahkan Pahala Al-Quran kepada Si Mati
Karangan: Abdullah Siddiq Al-Ghumari
Terjemahan dan Ulasan: Muhammad Aidil Azwal bin Zainuddin

null

Saturday, March 28, 2009

Kesan Beragama Dalam Kehidupan Muslim

Kesan Beragama Dalam Kehidupan Muslim PDF Print E-mail
al-Ustaz Mohd Khairuddin Aman Razali at-Takiri

Agama dalam Islam disebut sebagai ad-Din. Kalimah ad-Din bermaksud tunduk dan patuh. Ketundukan dan kepatuhan ini merangkumi seluruh aktiviti kehidupan manusia. Justeru, kefahaman beragama dalam Islam tidak sama dengan kefahaman beragama bagi orang lain. Bagi agama lain, agama hanyalah amalan ritual seperti upacara beragama tertentu yang dilakukan pada waktu tertentu.

Tetapi maksud beragama dalam Islam bermaksud ...................

Tetapi maksud beragama dalam Islam bermaksud berpegang dengan himpunan kepercayaan dan kumpulan peraturan kehidupan yang akan membentuk perilaku dan tatacara kehidupan seseorang.

Kumpulan kepercayaan ini dikenali sebagai aqidah. Ia akan membentuk cara berfikir seorang muslim. Seterusnya menentukan hala tuju hidupnya.

Kumpulan peraturan pula dikenali sebagai Syariat. Ia akan menjadi landasan dan panduan seorang muslim dalam menjalani hidupnya. Dia akan hidup dalam lingkusan dan batasan peraturan yang telah digariskan oleh Allah. Hatta di kala tiada manusia memantau segala perlakuannya, dia tetap mengikat dirinya denganh peraturan kehidupan tersebut.

Justeru, agama Islam yang mengandungi aqidah dan syariat berperanan dalam kehidupan seorang yang menerima Islam sebagai agama untuk menjadikan dirinya seorang yang baik bagi dirinya, baik bagi ahli keluarganya, baik bagi masyarakatnya yang Islam atau tidak, baik bagi negaranya bahkan baik kepada seluruh makhluk Allah yang lain termasuklah binatang dan alam persekitaran.

Ad-Din yang diterima di sisi Allah pula hanyalah Islam sebagaimana firman Allah:

إن الدين عند الله الإسلام

Maksudnya:

Sesungguhnya ad-Din (agama) yang (diterima) di sisi Allah ialah Islam.

Inilah aqidah yang diyakini oleh setiap muslim. Setiap muslim meyakini hanya Islam agama yang benar. Seorang muslim tidak menganggap semua agama sama. Seruan untuk menganggap semua agama sama adalah seruan kekufuran kerana ia bermaksud kita boleh memilih apa sahaja agama kerana semuanya nanti akan membawa ke syurga. Semua agama munghkin berusaha untuk mencari jalan ke syurga. Namun, hanya Islam yang membawa manusia ke syurga. Inilah aqidah muslim.

Ia ditegaskan oleh Allah dalam firmanNya: قل يا أيها الكافرون لا أعبد ما تعبدون ولا أنتم عابدون ما أعبد ولا أنا عابد ما عبدتم ولا أنتم عابدون ما أعبد لكم دينكم ولي دين

Maksudnya:

Katakanlah wahai Muhammad! Wahai orang yang kafir. Saya tidak menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukannya penyembah apa yang saya sembah. Dan saya sama sekali bukan penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu juga bukan penyembah apa yang saya sembah. Bagi kamu agama kamu .Bagi saya agama saya.

Seorang muslim mesti merasa megah dengan agama Islam. Kemegahan inilah yang menjadikan dirinya tanpa segan silu untuk mempraktikkan segala amalan beragama. Malah tanpa segan silu mempromosinya kepada seluruh umat manusia atas kesedaran untuk berkongsi kebaikan dengan seluruh manusia. Namun, rasa megah ini tidak pula membawa kepada sikap tidak menghormati agama lain. Ini kerana Islam menegaskan bahawa tiada paksaan dalam beragama sebagaimana firman Allah:

لا إكراه في الدين

Maksudnya:

Tiada paksaan dalam beragama.

Seorang muslim ialah seorang yang menerima Islam sebagai agama. Islam bermaksud menyerah dan tunduk. Iaitu menyerah diri serta tunduk kepada segala kehendak Allah. Justeru, seorang muslim ialah seorang yang bersedia menyerahkan dirinya kepada Allah serta tunduk kepada segala kehendak Allah yang berupa perintah dan larangan.

Syiar hidup seorang muslim ialah :

إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين

Maksudnya:

Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan yang mencipta, memiliki dan menguruskan seluruh alam.

Penyerahan diri ini menjadikan seseorang manusia sentiasa tenang menghadapi segala pancaroba hidup. Dia menyerahkan dirinya bulat-bulat kepada Allah. Dia tidak akan terkeluar dari landasan peraturan yang digariskan oleh Allah. Dia hanya melakukan apa yang disuruh oleh Allah dan meninggalkan apa yang dilarang. Perintah dan larangan Allah pasti membawa kepada kebahagian dan kebaikan. Dengan itu hidupnya sentiasa dalam keadaan bahagia, aman dan tenteram. Inilah janji Allah:

فمن اتبع هداي فلا يضل ولا يشقى ومن أعرض عن ذكري فإن له معيشة ضنكا

Maksudnya:

Sesiapa yang mengikut petunjukKu dia tidak akan sesat dan mendapat kecelakaan.Dan sesiapa yang berpaling daripada peringatanKu, baginya kehidupan yang amat sukar.

Segala nikmat diterima dengan syukur. Segala musibah diterima dengan sabar. Kekayaan diterima dengan syukur dengan cara menggunakannnya untuk jalan kebaikan. Dia tidak akan menjadi pemboros, sombong dan rakus dengan kekayaan sehingga menindas golongan miskin. Malah dia menjadi seorang dermawan. Sebahagian hartanya dibelanjakan untuk membantu golongan yang tidak berkemampuan. Ini dilakukan dengan keyakinan bahawa itulah yang disuruh oleh Allah. Hartanya adalah milik Allah. Justeru, dia terikat untuk membelanjakannnya menurut kehendak Allah. Antara kehendak Allah ialah membelanjakannnya untuk faqir miskin. Inilah hidup seorang muslim yang kaya.

Kemiskinan pula di terima dengan dada lapang sebagai ujian. Seorang muslim tidak akan menjadi penjenayah untuk mengatasi kemiskinannya. Baginya kemiskinan di dunia tidak bererti miskin di akhirat. Dia boleh memperolehi keakyaan di hari Akhirat sekiranya bersedia terikat dengan peraturan Tuhan. Justeru seorang muslim yang miskin akan sentiasa redha dengan keadaan dirinya. Dia tidak menyalahkan orang lain. Dan tidak akan menyusahkan orang lain.

Apabila seseorang menyerah dirinya kepada Allah, segala perlakuannya tidak akan menurut hawa nafsu. Masalah yang dihadapi oleh manusia hari ini ialah sikap “ingin memuas hati dan kehendak sendiri”. Sikap sebegini menjadikan manusia tidak mengambil kira kepentingan orang lain. Nafsu selalu mendorong manusia ke arah kejahatan. Ini ditegaskan oleh Allah dalam firmanNya:

إن النفس لأمارة بالسوء

Maksudnya:

Sesungguhnya nafsu sentiasa menyuruh melakukan kejahatan.

Apabila manusia menurut nafsu, dirinya akan menjadi sarang segala kerosakan dan kejahatan. Inilah penyebab kepada berleluasanya pembunuhan, jenayah rompakan dan kecurian. Justeru itu Allah menempelak golongan yang bertuhankan nafsu dengan firmanNya:

أفرأيت من اتخذ ألاهه هواه

Maksudnya

Tidakkah kamu melihat kepada orang yang menjadikan nafsunya sebagai tuhan?

Manusia yang hidup bertuhankan nafsu akan membunuh untuk memuaskan nafsunya. Manusia yang bertuhankan nafsu bersedia merompak dan mencuri untuk mendapatkan harta dengan jalan mudah bagi memuaskan nafsu keinginannya.

Dia akan melakukan apa sahaja demi kepuasan diri. Akibatnya berlakulah vandalisma iaitu merosakkan harta awam semata-mata untuk kepuasan diri.

Islam menjadikan seseorang itu menjadi manusia yang seimbang. Dia kan menjadi warganegara yang baik untuk negaranya. Ia menjadi penyumbang kepada ketamadunan negaranya. Ia akan bekerja keras demi menyebarkan kebaikan dalam masyarakatnya. Moto hidupnya ialah “menyeru ke arah kebaikan dan mencegah kemungkaran.”

Seorang muslim juga mempunyai akhlak yang baik. Sentiasa menghormati ahli masyarakat baik yang tua atau yang muda. Ini kerana dia berpegang dengan sabda baginda:

اتق الله حيثما كنت وأَتْبِعِ السَّيِّئَةََ الحسنةَ تَمْحُها وخَالِقِ الناسَ بخُلُقٍ حَسَنٍ

Maksudnya:

Bertaqwalah kamu kepada Allah di mana sahaja kamu berada, ikutilah kejahatan yang kamu lakukan dengan kebaikan nescaya kebaikan itu menghapuskan kebaikan dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.

Tuesday, March 24, 2009

TASAWWUF IMAM AL-SHAFI`E

TASAWWUF IMAM AL-SHAFI`E

oleh
Sheikh Gibril Fouâd Haddâd

Bismillah al-Rahman al-Raheem
was-salaat was-salaam `alaa Rasul-illa
wa 'alaa alihi wa sahbihi wa sallam

Adakah Imam al-Shafi‘e Menentang Tasawwuf?

Imam al-Shafi`e berkata:

"faqihan wa sufiyyan fa kun laysa wahidan
fa inni wa haqqillahi iyyaka ansahu "

“Jadilah kamu seorang faqih dan juga sufi kedua-duanya sekali: dan jangan menjadi salah satu darinya. Sesungguhnya demi kebenaran Ilahi, Aku menasihati kamu dengan seikhlasnya”.

[Al-Shafi`e, Diwan (Beirut dan Damsyik: Dar al-Fikr) hal. 47]


Kecaman terhadap tasawwuf yang dikatakan dibuat oleh Imam al-Shafi‘e yang kerapkali didengari pada hari ini mestilah diambil dalam konteks penentangan Imam terhadap sesetengah orang yang menggelar diri mereka ‘orang Islam’ atau ‘ahli Sufi’, tetapi pada hakikatnya tidak lain melainkan orang munafiq, ‘free-thinker’ dan mereka yang rosal akhlak dan moralnya.

Ini sewajarnya disedari oleh setiap orang yang didatangi golongan “Salafi” yang memetik-metik dari kitab Talbis Iblis karangan Ibn al-Jawzi, yang kemudiannya menyandarkan kepada Imam Shafi‘e seolah-olah penentangan beliau [Imam Shafi‘e] terhadap tasawwuf secara keseluruhannya. Bagaimana mungkin mereka boleh percaya Imam Shafi‘e menentang tasawwuf sedangkan dalam masa yang sama menasihati para fuqaha’ agar menjadi ahli Sufi, seperti mana dinakalkan di atas (Diwan al-Shafi‘e). Adakah mereka tidak mempunyai pandangan lain yang lebih baik terhadap Imam al-Shafi‘e selain dari seorang yang memberi dua nasihat yang berbeza?

Muhaddith al-`Ajluni turut menyebut dalam kitabnya Kashf al-khafa wa muzil al-albas (1:341 #1089) bahawa Imam Shafi`e pernah berkata:

“Tiga perkara di dunia ini yang aku cintai: mengelak berpura-pura, melayani manusia dengan baik, dan mengikuti jalan tasawwuf”.

Ibn al-Qayyim dalam Madarij al-salikinnya (3:128) dan Imam al-Suyuti pula dalam Ta'yid al-haqiqah al-`aliyyahnya (hal. 15) turut menyebut bahawa Imam al-Shafi`e pernah berkata:

“Aku bersama-sama dengan para Sufi dan memperolehi dari mereka tiga perkara: kenyataan mereka bahawa masa itu pedang, jika kamu tidak memotongnya, ia pasti memotongmu: kenyataan mereka jika kamu tidak menyibukkan nafsumu dengan kebenaran, pasti dia akan menyibukkanmu dengan kepalsuan; dan kenyataan mereka bahawa pengekangan itu adalah suatu kekebalan”.

Seorang Sheikh Mazhab Maliki, Sheikh Ahmad al-`Alawi menyebut, yang dipetik dari terjemahan bukunya berjudul ‘Knowledge of God’ (hal. xxi):


“Renungkanlah keikhlasan Imam Besar ini [Imam Shafi`e] dan bagaimana beliau menjadi saksi untuk para Sufi, dan mengesahkan tentang kesungguhan dan perjuangan mereka”. Shaykh Sha`rani, moga-moga Allah merahmatinya berkata: “Renungkanlah bagaimana Imam al-Shafi‘e mengambil ini dari para Sufi dan bukan dari mereka selainnya. Ianya dengan ini kamu mengetahui kemuliaan mereka [para Sufi] mengatasi yang lain, mengatasi mereka yang beliau [Imam Shafi‘e] sendiri suatu ketika dahulu menuntut darinya”.


Salah seorang tokoh berwibawa bagi golongan “Salafi” ini ialah Ibn Qayyim al-Jawziyyah, namun
apabila Ibn Qayyim menyebut sesuatu yang bercanggah dengan dakwaan puak “Salafi” ini, mereka menjadi hilang punca apabila ulama rujukan mereka sendiri tiba-tiba menentang mereka. Ibn Qayyim menyebut di dalam kitabnya Madarij al-salikin (2:307):

“Agama ini terkandung di dalamnya sekalian akhlak yang baik (al-dinu kulluhu khuluq). Sesiapa yang mengatasimu dalam berakhlak baik, maka sesungguhnya dia mengatasimu dalam beragama, dan perkara yang sama juga benar untuk tasawwuf. Al-Kattani berkata: "Tasawwuf itu berakhlak baik (al-tasawwuf khuluq), sesiapa yang mengatasimu dalam berakhlak baik sesungguhnya ia mengatasimu dalam tasawwuf".

Kita juga sepatutnya bertanya adakah orang yang kononnya bergelar "Salafi" itu menyedari pendirian Ibn `Abd al-Wahhab berhubung dengan tasawwuf?. Ianya bukti yang hampir nyata sekali bahawa mereka sama sekali tidak menyedari bahawa Ibn ‘Abd al-Wahhab juga sebenarnya menerima tasawwuf yang disandarkan kepada Rasulullah sendiri. Ibn `Abd al- Wahhab menyebut di dalam kitabnya, jilid ketiga dari Fatawa wa rasa’il yang diterbitkan oleh Universiti Ibn Sa‘ud, pada halaman 31, Soalan kelima

“Ketahuilah!—moga-moga Allah merahmatimu—bahawa Allah Maha Agung telah mengutuskan Muhammad, selawat dan kesejahteraan buat baginda, dengan petunjuk yang benar, mengandungi ilmu yang bermanfaat, dan dengan agama yang benar, mengandungi amalan yang lurus. Pengikut agama ini adalah seperti berikut:
mereka yang menyibukkan diri mereka mempelajari dan mendalami ilmu fekah, dan perbahasan mengenainya seperti para fuqaha’; dan ada di kalangan mereka yang menyibukkan diri mereka dengan beribadat dan mengejar Akhirat, seperti para Sufi. Allah telah mengutuskan RasulNya dengan agama ini yang mengandungi kedua-duanya, iaitu fekah dan tasawwuf”

Berhubung dengan tentangan oleh golongan pembohong ini terhadap para Sufi yang mereka petik dari kitab Talbis Iblis karangan Ibn al-Jawzi yang kononnya Ibn al-Jawzi menyandarkan kepada kata-kata Imam al-Shafi`e yang mengkritik para Sufi, atau kata-kata Imam Ahmad yang mengkritik Imam al-Harith al-Muhasibi: kita katakan kepada mereka sepertimana al-Dhahabi berkata: “Kita menggelarkan Ibn al-Jawzi seorang ‘hafiz’ (penghafal hadith) sebagai penghormatan kepada penulisannya yang banyak, dan bukan terhadap keilmuannya”. Maksudnya: Beliau tidak boleh diterima apabila membuat laporan periwayatan.

Berikut adalah ungkapan muhaddith Syria yang terkenal, Almarhum Sheikh `Abdul Fattah Abu Ghuddah:

“Pergantungan kita kepada Allah! Ibn al-Jawzi telah mengarang sejumlah besar kitab-kitab berhubung hadith palsu supaya para fuqaha’, pendakwah, dan yang lain dapat mengelak darinya. Namun tiba-tiba kamu melihat beliau memetik pelbagai hadith-hadith palsu dan cerita-cerita tanpa hujung pangkal yang sudahpun ditolak, tanpa merasa malu dan berfikir dua kali. Akhirnya seseorang mula merasakan bahawa "Ibn al-Jawzi" itu sebenarnya dua orang dan bukannya satu! ... Dengan kerana itu, Ibn al-Athir mengkritik beliau dalam buku sejarahnya berjudul al-Kamil (10:228), dengan katanya: “Ibn al- Jawzi menyalahkan beliau [Imam al-Ghazali] kerana banyak perkara, antaranya termasuklah kerana Imam Ghazali memetik hadith-hadith yang tidak sahih dalam kitabnya. Sungguh pelik sekali, Ibn al-Jawzi sepatutnya mengkritik dirinya sendiri terlebih dahulu! kerana kitab-kitabnya dan karyanya yang bersemangat itu penuh dengan itu semua. (mahshuw bihi wa mamlu' minh)!” Dan pakar hadith
al-Sakhawi menyebut di dalam Sharh al-alfiyya (hal. 107): “Ibn al-Jawzi memetik sejumlah hadith-hadith palsu dan seumpamanya dengan melimpah-ruah dalam buku-buku kecamannya”!


Selain dari itu, kita turut memetik di sini ungkapan nasihat Imam Tajuddin al-Subki kepada para penuntut ilmu dalam Pengajian Islam, katanya:

“Berhati-hati apabila mendengar apa yang berlaku antara... Ahmad bin Hanbal dan al-Harith al-Muhasibi. Jika kamu menyibukkan dirimu dengan ini, aku bimbang maut menghampiri mu. Mereka adalah pemimpin ternama agama dan ungkapan mereka mempunyai banyak makna, yang mana sebahagiannya mungkin telah tersilap tafsir. Adapun kita, kita tiada urusan lain melainkan membenarkan mereka dan berdiam diri terhadap apa yang berlaku sesama mereka, seperti mana yang berlaku di kalangan para Sahabat, moga-moga ALlah merahmati mereka semua... Wahai kamu yang mencari petunjuk!... tinggalkan apa yang berlaku antara mereka, sibukkan dirimu apa yang melibatkanmu, dan tinggalkan apa yang tiada kena mengena dengan mu!”

[Subki, Qa`idah fi al-jarh wa al-ta`dil, hal. 53.]

Adapun pelbagai serangan al-Dhahabi samada terhadap para Sufi terawal mahupun terkemudian di dalam Mizan al-i`tidalnya (1:430 #1606), di mana beliau memetik laporan-laporan mengkritik al-Muhasibi seperti:

“Di mana mereka seperti al-Harith al-Muhasibi! Bagaimana andainya Abu Zur`a melihat kitab-kitab [Sufi] terkemudian seperti Qut al-qulub oleh Abu Talib [al-Makki], dan di mana kitab-kitab seumpama Qut itu? Bagaimana andainya beliau melihat Bahjat al-asrar oleh Abu Jahdam, dan Haqa'iq al-tafsir oleh al-Sulami, sudah pasti beliau akan melompat hingga ke siling! Bagaimana jika beliau melihat kitab-kitab oleh Abu Hamid al-Tusi [Imam Ghazali]....? dan Shaykh `Abd al-Qadir [Gilani]... Fusus al-hikam dan al- Futuhat al-makiyya [Ibn `Arabi]?”

Kita mengambil pendekatan Imam al-Suyuti terhadap kenyataan seumpama itu yang menolaknya seperti mana dalam kitabnya Qam` al- mu`arid bi nusrat Ibn al-Farid (seperti dipetik oleh Imam al-Lucknawi di dalam al-Raf` wa al-takmil fi al-jarh wa al-ta`dil (hal. 319-320) dengan kata Suyuti:

“Jangan biarkan al-Dhahabi merapu dan membohongi mu, kerana dia telah pergi terlalu jauh sehingga turut merapu terhadap Imam Fakhr al-Din ibn al-Khatib [al-Razi], dan terhadap seorang Imam yang besar seperti:

Abu Talib al-Makki pengarang kitab Qut al-qulub, dan orang yang lebih hebat dari Abu Talib iaitu: Sheikh Abu al-Hasan al-Ash`ari, yang kemahsyurannya memenuhi langit! dan turut memenuhi kitab-kitab al-Dhahabi sendiri seperti: al-Mizan, al-Tarikh, dan Siyar al-nubala'. Adakah kamu akan menerima kata-kata beliau yang bertentangan dengan ini semua? Tidak sama sekali, Demi Allah! Perkataanya tidak diterima berhubung dengan mereka ini; sebaliknya kita penuhi hak mereka dari kita, dan kita tunaikan hak itu sepenuhnya.

Selawat dan sejahtera buat Junjungan Besar Rasulullah,
kaum keluarganya dan para Sahabatnya.


*Dan Allah jua Yang Maha Mengetahui*



Friday, March 20, 2009

Pandangan ASWJ ngenai bid’ah dolalah

Pandangan ASWJ mengenai bid’ah dolalah
Penjelasan mengenai Bid’ah yang disalah faham oleh mereka yang tertentu

-oleh abulabas aljuaini -----------------------------------------


Bid’ah pada pandangan aswj ialah perkara baru yang diadakan dalam agama yang tidak berasas daripadanya maka ianya adalah bid’ah yang keji (buruk) dan sesat hukumnya sama-ada makruh atau haram . Yang makruh itu jelas kedudukannya jika dikerjakan tidak ada pahla dan dosa tetapi jika ditinggalkan maka beroleh pahala.Manakala yang haram itu jelas hukumnya memang wajib ditinggalkan dan beroleh pahala sedangkan mengerjakannya pula akan beroleh dosa sesuai dengan hadis Nabi yang bermaksud “ setiap bid’ah itu sesat dan segala kesesatan itu balasannya neraka.


Contoh bid’ah yang makruh itu seperti hisap rokok makan bawang mentah yang berbau busuk, juga mengadakan perhimpunan dan jamuan dirumah simati pada hari kematiannya tanpa sebarang tujuan dan memakan hidangan binatang dhab . Dan sebagainya . Dari sinilah terdapat kefahaman yang berpendapat bahawa bid’ah itu sendiri terbahadi dua secara umumnya. Termasuk dalam bid’ah hasanah itu tiga bahagi hukum agama wajib, sunat, dan harus, manakala termasuk dalam bahagian kedua ia itu bid’ah sayiah yang buruk keji dan sesat ialah dua bahagi jenis hukom haram dan makruh .


Adapun perkara baru yang diadakan dalam agama yang berasas daripadanya seperti hadis sahih riwayat Muslm ini yang menjelaskan dan menyelaraskan maksud hadis Muslim yang selalu dibawa mereka bermaksud “ setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka,kerana berapa banyak amalan yang baru diadakan dalam agama dan tidak ada contohnya dan tidak pernah diamalkan oleh Rasulullah seperti:


solat berjama’ah sunat taraweh dimasjid pada bulan Ramadhan itu ,maka ianya dikira bid’ah yang hasanah (elok dan baik)hukumnya dikira sunat dan beroleh pahala bagi mereka yang mengerjakannya tanpa khilaf lagi selain mereka yang keliru dalam agamanya sendiri. Inilah pendapat yang telah dipersetujui oleh Amirul mukminin kedua Umar al Khattab ra.dan memujinya dengan berkata “sebaik-baik bid’ah inilah” (solat taraweh berjemaah dimasjid pada malam Ramadhan ) begitu juga arahan laungan azan dua kali anjuran Amirul mukminin Usman ra.pada hari jum’at yang telah sememangnya didapati asasnya daripada Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam yang mana Baginda pernah mengarah Bilal dan Ibni ummi Maktum ra. mengumadangkannya dua kali azan dibulan Ramadhan untuk mengejutkan orang ramai bangun bersahur. Demikian juga berzikir beramai-ramai selesai solat berdasarkan firmanNya bermaksud “ apabila selesai kamu menunaikan solat maka berzikirlah kepada Allah secara berdiri duduk dan mengireng atas lambong (menyengging) al Nisa 103,


ziarah kubur berdasarkan sabdanya bermaksud ziarahilah kubur itu untuk mengingati akhirat HR Muslim dan membaca Quran disisinya berdasarkan firmanNya bermaksud “ bacalah apa yang senang daripadanya dan bergotong ruyong melakukan kerja kebajikan umum berdasarkan firmanNya bermaksud “ bertolong bantulah atas kerja kebajikan dan ketaqwaan” al Maidah 2 seperti membersih jalan raya, kampong halaman dan mereka cipta suatu kemudahan untuk kebaikan dan faedah orang ramai ,dan lain-lain sebagainya,bedasarkan firman Allah bermaksud “siapa yang melakukan amalan kebaikan Kami tambah padanya lagi (kebaikan itu baginya)” al Syuraa 23


ini sesuai dengan hadis Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang bermaksud “keimanan itu mempunyai cabang-cabang yang banyak lebih dari 70 cawangnya cabangnya yang tertinggi ialah kalimah tauhid dan cabangnya yang terendah ialah membuang sampah sarap dari jalan raya dan pada hadis lain lain tersenyum dan bermanis muka di hadapan saudara atau memberi bantuan kepada segala yang hidup dan bernyawa dikira debagai amalan sedeqah dan akan diberi pahala ” sabdanya lagi bermaksud “ jangan kamu meremehkan perkara yang makruf ( yang diterima pada masyarakat sebagai suatu yang baik dan berfaedah ) sedikitpun HR Muslim .


Alasan yang biasa dibawa oleh mereka itu, bahawa sekiranya amalan itu adalah baik dan kebajikan tentulah para salaf tidak akan meninggalkannya , malah telah dilakukan oleh mereka terlebih dahulu kerana mereka adalah sebaik-baik ummah dan diakui sebaik qurun oleh Rasulullah ,jadi bila perkara itu tidak pernah diamalkan oleh mereka yang terbaik ini menbuktikan sesuatu ini bukan suatu yang baik .Tetapi Alasan perdana mereka itu adalah pembohongan belaka ,kerana tidak ada bukti yang mengatakan setiap yang baik itu pasti dilakukan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam , tetapi kenyataan seperti itu kita tidak pernah mendengar dari mereka yang berkenaan dan ini pasti bukan pengakuan yang datang dari lidah dan hati orang yang beriman kerana kata-kata seperti itu tidak lahir dari lidah dan hati mereka yang beriman dan tidak ada perasaan takabbur dari hatinya sebab itulah perkataan seperti ini pernah diberitahu oleh Allah dalam QuranNya pada surah al Ahqaf ayat 11 bermaksud “ telah berkata orang kapir kepada mereka yang beriman ( dengan sombong dan angkuh )sekiranya (ajaran yang dianuti dan diamalkan orang Islam itu adalah baik (dan bermanfa’at) tentulah mereka tidak mendahului kami menerima dan mempercayainya (kerana kamilah yang lebih berhak dengan segala kebaikan) dan ketika mereka mendengar ajaran pertunjuk (al Quran mereka terus memusuhinya dan mencacinya dengan menuduhnya sebagai cerita dungen al Ahqaf ayat 11.


Jelaslah alasan yang mereka bangga selama ini bukan alasan yang sesuai dan boleh membela mereka, tetapi kerana hati dan perasaan mereka itu , hampir sama maka bukti dan alasan yang dibawa juga adalah sama . Ini mengingatkan kita kepada akidah dan kepercayaan kumpulan ini yang mengatakan Allah itu berada diatas langit bertempat berjisim beranggota dan sebagainya, kepercayaan ini bila di teliti adalah sama dengan akidah kepercayaan Firaun la’anatu llah , kerana diperintahkan perdana menterinya Haman untuk membangun syarkh



Pengertian bid’ah ini adalah selaras dengan definasi agama itu sendiri( the way of life )yang harus diyakini bahawa ianya bukanlah ibadat ritual semata-mata seperti solat zakat puasa dan haji sahaja , tetapi juga merangkumi segala urusan kehidupan dunia dan akhirat, hidup dan mati kita semuanya seperti mana firmannya bermaksud “katakanlah bahawa solatku dan segala ibadatku, juga hidup dan matiku hanya kerana Allah Tuhan semasta alam ini” al An’am 162 .tetapi bagi mereka yang keliru dalam agamanya disempitkan difinasi agama tersebut hanya kepada amalan ibadat ritual sahaja sedangkan urusan kegiatan kehidupan yang lain pada anggapannya, tidak termasuk dalam agama sempit yang mereka fahami , sebab itu bagi mereka urusan kehidupan ini tidak akan diberi pahala kerana dihukum bid’ah dan sesat, kerana kata mereka itu semua adalah urusan dunia .


Pada hal pada pandangan agama semua urusan dan perbuatan tersebut ditulis sebagai ibadat (amal saleh)dan akan diberi pahala sebagaimana firmanNya bermaksud “yang demikian itu adalah disebabkan mereka tidak merasai dahaga, kepenatan, juga sebarang kesusahan, pada jalan Allah dan tidak melangkah atau mencapai satu kejayaan keatas musuhnya melainkan akan ditulis baginya sebagai amal saleh al Taubah 120-121.


Hal ini juga pernah ditegaskan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihui wa sallam dalam hadis Jibrel as. Mengenai iman islam dan ehsan seperti mana yang diriwayat dan di ceritakan oleh Umar al Khattab ra. sabdaya itulah dia Jibrel yang datang mengajar kamu mengenai agama kamu”HR Bukhari Muslim dan lainya . Jadi kekeliruan yang difahami oleh mereka itu kiranya terdapat dalil-dalil tertentu yang boleh memesongkan fahaman hendaklah di selaraskan kembali dengan dasar perdana diatas kerana ianya termasuk dalam kateguri dalil mutasyabihat yang perlu di rujuk dan disesuaikan dengan dalil yang jelas tadi . umpamanya Rasulullah pernah menamakan urusan pertanian itu dengan urusan dunia (umur duniakum )iaitu urusan kehidupan dunia kamu. Tetapi sebagaiman yang diketahui bahawa segala urusan kehidupan ini seperti bertanam berniaga semuanya akan diberi ganjaran pahala yang besar diakhirat nanti seperti pahala sedeqah juga akan ditempatkan bersama para siddiqin syuhada dan lain-lain . Oleh itu dapatlah difahami bahawa dalam hadis yang boleh mengelirukan tadi terdapat perkataan yang dibuang iaitu perkataan kehidupan sebelum perkataan dunia seperti mana firmanNya bermaksud “berkata mereka yang inginkan kehidupan dunia al Qasas 79 dan firmanNya lagi dikatakan kepada orang kafir pada hari akhirat nanti kamu telah menghilangkan (ni’amat)kebaikan kamu dalam hidup kamu didunia dulu al Ahqaf 20 firmanNya lagi bermaksud “ Kami bahagikan dikalangan mereka segala keperluan hidup mereka dalam kehidupan dunia al Zukhruf 32 .
Adapun hadis yang bermaksud “ setiap perkara baru (bid’ah iru sesat” tidak harus di fahami bermakna semua sekali sebagaimana zahirnya, kerana dalam ilmu sastera bahasa arab atau ilmu balaghah terdapat perkataan yang bermaksud kiasan (majazi) dan bukan makna (hakiki) sebagaimana zahirnya .

Menurut istilah tersebut dikenali dengan (minbab itlaqil kull wa iradatil juz’i) contohnya telalu banyak sekali dalam Quran dan hadis , juga sastera arab seperti disini umpama firmanNya bermaksud “dan ada dibelakang mereka raja (zalim ) yang akan merampas semua (kulla ) kapal” al Kahf 79 sedangkan apa yang di ceritakan raja zalim itu tidak merampas semua sekali kapal termasuk yang dah rusak berlubang atau buruk, sama juga firmanNya bermaksud “ dikurniakan kepadanya (putri raja Balqis) itu daripada segala suatu (kulla syai’)” pada hal menurut ceritanya Balqis berkuasa hanya dinagara sabaa sahaja bukan memerintah kerajaan seluruh dunia ini seperti kerajaan Nabi Allah Sulaiman as. .Begitu juga firmanNya berbentuk sebaliknya ia itu itlaq juz wa iradatil kull seperti firmanNya bermaksud “ diharamkan atas kamu bangkai, darah, dan daging khinzir” al Maidah ayat 3 apa yang disebut (diharamkan) disini hanya dagingnya sahaja tetapi ulama mengatakan semua sekali binatang khinzir itu, tidak halal dimakan lemak, urat, belulang, dan segalanya.


Saya pun jadi hairan bin pelik bin ajaib dengan mereka yang bermatian menulak makna kiasan ini yang dengan penulakan tersebut mereka terperangkap dengan kesilapan dan kesesatan yang memesongkan mereka dari ajaran pertunjuk agama terutama dalam isu ‘akidah , pada hal bukan sahaja dalam sastera arab tetapi juga dalam sastera melayu terdapat percakapan kiasan seperti itu cotoh jemputlah makan nasi ,lalu kita pun makanlah dengan lauk yang di sediakan dan minum sekali apa yang dipelawakan hanya makan nasi tanpa disuruhnya kita minum dan merasai berbagai lauk pauk yang disediakan , demikian juga bila kita kepasar untuk membeli buah kita beli durian dan borong satu raga ,bukan bertujuan untuk memakan semua sekali , kerana pasti kewarasan seseorang itu akan memilih buah yang elok dan baik sahaja untuk dimakan sedangkan yang buruk dan berulat pasti dibuangnya . Jadi hadis yang bermaksud “ setiap perkara yang baru diadakan itu tanpa ada asasnya itu tertulak , dan mafhumnya perkara baru yang baik dan berfaidah lagi berasas ( ada dalilnya) maka tidak harus ditulak dan boleh diterima . Disinilah ulama membahagikan bid’ah itu terbahagi dua ada yang baik berfaidah lagi terpuji(berasas), dan ada yang buruk mazmumzh tidak berfaidah lagi merugikan .Yang pertama itu ada kalanya menjadi wajib dan ada masanya disunat dan digalakkan oleh agama, mana-kala yang kedua itu ada ketikanya dihukum makruh tidak diberi pahala jika dikerjakannya tetapi akan diberi pahala dengan menjauh dan meninggalkannya dan ada juga yang wajib ditinggalkan dan dikenakan dosa jika dikerjakannya malah beroleh pahala dengan meninggalkannya .


Sikap degil dan keras hati inilah yang menyesatkan ramai orang dari jalan petunjuk perdana yang dilalui oleh majoritu umat Islam (sawadul ‘azam )diseluruh dunia dan mereka ini (majority umat) telah di jamin keselamatan mereka dalam satu hadis sahih Baginda sedangkan kumpulan degil tetap menganut ajaran songsang yang melawan arus dan membela pendapat yang pelik-pelik(syaz) dari orang ramai sabda Nabi siapa yang pelik (syaz) dan terpencil dia akan terpencil kedalam neraka .Mereka ini mudah dikenali tetapi bukan dengan nama dan lagak yang mereka perkenalkan kepada kita hari ini , munkin nama dan lagak mereka itu boleh sadurkan , tetapi kita dapat menenali mereka itu dengan asas sumber dan rmetalamat ajaran mereka iaitu menyesatkan umat dan mentakfirkan akidah mereka , berdasarkan satu hadis yang kesamaran tadi .


Demikian juga selanjutnya dalil dan nas ayat-ayat al Quran yang terbentuk dari ayat mutasyabihat , mereka lebih suka berpegang dengan apa yang kesamaran dari ayat tersebut contohnya seperti bersemayam bagi makna perkataan istawa . Pada hal istawa itu sendiri mengandungi banyak makna dan arti kerana perkataan itu berbentuk mutasyabih seperti bermakna matang dan cerdik bila dipakai kepada manusia tetapi perkataan tersebut juga bila digunakan kepada kapal, maka maknanya yang sesuai ialah berlabuh dan seterusnya . Tetapi kenaapa bila di gunakan kapada Allah dan manusia mereka menyamakan saja antara keduanya . Dalam hadis bila ada mereka yang semacam itu, dialah orang yang dimaksudkan dengan mereka yang ada berpenyakit (zaigh) dalam hatinya.Sama juga dengan hadis setiap yang baru diatas tadi, dipegangnya makna semua sekali sedangkan perkataan kul dalam hadis tadi boleh bermaksud dengan makna kebanyakan atau sebahagian besar dari perkara baru yang diada-adakan iti adalah bid’ah dan sesat ,kerana ada juga perkara baru yang diterima oleh agama dan hukumnya sunat , miskipun ianya tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan sahabat juga para tabien , selain perkara yang jelas telah dilarangnya, adapun perkara yang tidak dilarangnya malah didiamkannya sahaja bukan kerana lupa maka itulah yang dikatakan kelunggaran(kema’afan) kepada kita sebagai hambaNya atau rahmatnya terhapat umatnya


Dalam satu hadis Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam ada dijelaskan mengenai perkara yang baru dan tidak disebut dalam Quran dan hadis (perkara muhdas)bid’ah dan perkara yang didiamkan oleh agama bukan kerana lupa seperti mana firman Allah bermaksud “dan tiadalah Tuhan kamu itu lupa”Maryam 64 .Mengenai suatu yang makruf pada uruf yang baik. dan berguna lagi berfaidah dalam suatu masyarakat itu, kita telah diberi panduan oleh Allah seperti firmamNya bermaksud “ wahai orang mukmin ! janganlah kamu mengharamkan segala kebaikan yang di halalkan Allah swt. Untuk kamu dan jangan kamu melampau (dalam agama ) sungguhnya Allah tidak suka mereka yang pelampau al Maidah 87 seterusnya firman Nya lagi bermaksud “katakanlah siapa? ( tidak ada sesiapa )yang dapat mengharamkan perhiasan Allah yang dikeluarkanNya untuk hambaNya daripada ruzki ( kurniaanNya)katakan ianya (pengurniaan tersebut)adalah diperuntukkan kepada orang mukmin juga pada hidup dunia ini( sedangkan) pada pada hari kiamat nanti (segala ni’amat kurniaan tersebut)diperuntukkan khusus kapada mereka yang beriman sahaja .


Katakan sesungguhnya yang diharamkan Tuhanku hanyalah segala perkara keji lahir dan batinnya dan kerja dosa juga perbuatan pencerubohan dan mempersekutukan (suatu yang lain )dengan Allah apa yang tidak (pernah)diturunkan bukti (juga diharamkan kamu berkata terhadap Allah suatu yang kamu tidak mengetahuinya al A’araf 32-33 .Inilah keterangan yang jelas dari agama berdasarkan firman Allah dalam ayat muhkam Nya yang jelas sebagai panduan atau jalan perdana (siratal mustaqim) kepada kita , dan jika terdapat kesamaran pandangan (subul) yang lain bolehlah jalan perdana ini dijadikan panduan kita semua .sesuai dengan kesempurnaan agama ini ,yang mana umatnya pula dikatan sebagai umat terbaik yang pertengahan sederhana saksama dan saimbang.


Kata Syaikh Qardawi ra. Aku tahu maksud Syaikh Ibnu Taimiah menulak kata-kata majaz (kiasan) dan tidak mahu menerimanya dalam hujjah agama itu kerana tidak mahu mengikut rentak makna batin atau takwel yang dipermainkan oleh puak syi’ah dengan maksud dari Quran dan hadis Rasulullah saw. Yang mana puak syi’ah memberi makna yang berbagai-bagai menurut kemahuan mereka dengan sewenang-wenang . Sekalipun aku menghormati dan mengasihi Syaikh tetapi aku lebih berhak untuk bersama kebenaran dan tidak sanggup menukarkannya dengan yang lain .Inilah apa yang dicatatkan oleh pepatah lama kita lari dari mulut harimau dan masuk kemulut buaya ,atau untung seguni dan rugi sekarong , sebab takwelan itu memang wujud dalam agama tetapi tidak diketahui selain Allah dan mereka yang rasikh dan mendalam ilmunya , oleh itu kiranya hendak ditakwelkan apa yang syubhat itu janganlah terkeluar dari panduan takwelan yang dijelaskan Allah dalam ayatNya yang muhkamat ini .justeru inilah jalan pertunjuk persaimbangan yang sentiasa menjadi ikutan dan pilihan umat ini . Jadi bila berdepan dengan nas-nas yang kesamaran seperti istawa itu ,seperti dalam firmanNya bermaksud Tuhan yang Rahman itu ber istawa atas ‘arasy” Taha 5 disesuaikan perkataan kesamaran itu dengan firmamNya bermaksud “Dia Yang Maha berkuasa atas hamba (dan makhlukNya)” al An’am 61 atau firmanNya bermaksud “Maha tinggi darjatNya yang mempunyai arasy “ al Mukmin 15 .Sedangkan bagi mereka tadi (kumpulan mubtadi’ah yang sesat) tadi sekalipun takwelan yang diambil dari al Quran seperti diatas, mereka berani menulaknya mentah-mentah malah ditentangnya dan mengatakan arti tersebut adalah takwel yang tidak dibenarkan tidakkah mereka juga sama dengan kaum mua’ttilah kerana menolak makna-makna sipat Allah yang layak dengan kebesaranNya yang dibawa oleh Quran sendiri.


Sedangkan apa yang ditolak oleh aswj itu ialah makna- dan terjemahan yang boleh memberi kesamaran dan persamaan Allah dengan hamba dan makhlukNya kerana mereka (aswj telah meyakini bahawa Allah bersipat dengan segala sipat kesempurnaan dan Maha suci dari segala kekurangan ,sebab itu bila mereka menulak makna kesamaran yang boleh menyamakan Allah dengan makhlukNya seperti bersemayam bertangan kerana bagi Allah sipat tersebut dikira sebahagian dari kekurangan tetapi mereka menerima sipat mendengar dan melihat itu sabit bagi Allah kerana sipat tersebut adalah kesempurnaan bagi Allah , sebab mustahil dari Allah itu sipat tuli buta bisu sakit dan sebagainya

Kumpulan mereka ini berani menyamakan Allah dengan makhlukNya sahingga mengatakan Allah swt. Berangguta bertempat berjisim bertempat diatas langit bersemayam diatas arasy bertangan berkaki berwajah sedangkan Allah dengan tegas menyatakan “tidak ada umpamaNya suatu” al Syuraa 11 “tidak ada bagiNya seorang pun yang setaraNya (dari makhlukNya)” al Ikhlas 4 .Dengan dua ayat (muhkam)yang jelas ini sudah tertolak segala makna kesamaran yang dipegang dan diikuti oleh mereka yang berpenyakit dalam hatinya tadi . Lantaran inilah, kaum aswj tidak tertarik dengan pendapat yang dibawa oleh kaum mujassimah dan musyabbihah dari kalangan kaum yang terasing dari umat Islam ini .Adapun kaum aswj dari kalangan Asy’ariyin dan Maturidin tidak akan menyamakan Allah dan menyengutukanNya dengan suatu yang lain dan menolak segala yang tidak layak dengan kebesaranNya .


Contohnya telah dijelaskan pada hadis kudsi yang dibawa Bukhari dan lainnya bermaksud antara lain firman Allah:ada hambaKu Yang tidak sudi datang melawati dan menziarahiKu semasa Aku sakit, jawab hamba tadi bagaimana aku dapat menlawat dan menziarahi Kamu sedangkan kamu itu Tuhan semasta alam firmanNya: tidakah kamu tahu disana ada seorang hambaKu yang sakit , sekiranya engkau pergi menziarahinya, pasti kamu dapati Aku (kaseh sayang dan rahmatKu)berada disampingnya (oleh itu kiranya hamba tadi, pergi menziarahi saudaranya yang sakit, maka hamba tadi akan mendapati kaseh sayang dan rahmat Allah yang dikurniakan kepada saudaranya yang sakit itu hingg akhir hadis . Lantaran ini fahamlah kita percakapan kiasan memang suatu kenyataan dalam sastera dan balaghah bahasa arab , yang susah untuk difaham oleh kita tingkatan manusia biasa ,sebab itulah diarahkan kita supaya bertanya kepada para ulama (yang pakar dan ahli dalam bidangnya) kiranya kita tidak mengetahuinya maksud dari firmanNya pada ayat 7 al Ambiyaa .


Kesimpulannya inilah suatu penyelewengan bid’ah dan kesesatan yang paling besar dan bahaya yang akan mengangcam umat seluruhnya. Kerana bila mana akidah mukmin itu sudah terpesong sekalipun sedikit , maka dia dikira belum lagi beriman kepada Allah swt. Tetapi katalah mereka cuma baru Islam kerana lagaknya sama seperti dengan orang Islam pada lahir sahaja, seperti mana firmanNya kepada orang a’rabi yang mengaku telah beriman tetapi maseh tidak berimam dengan betul dan benar ,firmanNya bermaksud “ berkata puak –puak a’rabi(arab bawdy dusun yang tinggal disebelah timur Madinah dari kawasan Najd) “kami telah beriman katakanlah kamu belum beriman (seperti mana yang sewajar) tetapi katalah kami telah Islam (menyerah pada lahirnya sahaja) sedangkan keimanan (akidah sebenar) belum memasuki hati –hati kamu”al Hujurat ayat 14, justeru inilah Allah telah mencatatkan sejarah mereka dalam al Qyran bermaksud “ puak a’raby inilah yang (terkenal)bersangatan ingkar (dan kufur) dan bermuka-muka ( sikap munafiq)dan terlampau (biadab )kurang ajar terhadap arahan dan peraturan agama yang diturunkan Allah kepada RasulNya. Dikalangan mereka juga ada yang menjadikan apa yang mereka belanjakan itu sebagai bayaran yang terhutang (berat) dan menunggu-nguggu kesusahan (bala bencana) akan menimpa kamu Taubah 97-98 .


Sejarah hitam mereka berterusan sejak dari masa Baginda Rasulullah saw. Sampai hari ini. Terdapat banyak sejarah biadab mereka ,ada yang datang kencing dalam masjid Rasulullah, ada yang menarik baju Baginda Rasulullah sahingga merah kelihatan lihernya ,ada juga yang memanggil nama Nabi dan bembuat bising dan mengganggu semasa Baginda Rasul sedang berehat dan ada pula yang mempersoalkan ketaqwaan dan keikhlasan Rasulullah dan ada pula yang tidak tahu bersopan sekalipun semasa berdoa dan beribadat . Dan banyak lagi tersebut dalam hadis sahih dan dalil Qat’I yang tidak dapat dipertikai dan dibohongi oleh sesiapa pun .Ajaran yang dibawa kaum wahabiah yang mengancam keharmuniam masyarakat Isalam hari ini berpunca dari kaum wahabiah mutasalifin ini ,Awas!



Awasilah saudaraku dan nasihatlah kaum keluarga kita agar tidak mudah terkena (termasuk )perangkap yang dipasang oleh kaum wahabiah mutasalifiah ini , kerana mereka yang termasuk dalam perangkap mereka ini akan susah untuk dipulih dan dirawat ,malah akan menjadi angkuh dengan kesesatan ajaran mereka , semuga Allah selamatkan kita semua dari bahaya dan angkara murka mereka, Tuhan kami! janganlah kamu cabut kembali nor hidayahMu dari hati kami setelah Kamu tunjuki kami sakaliannya dan kurniakan kami rahmat dariMu, Kamulah Yang Maha Pemberi :amin !. ya rabbal ‘alamin me
.

Saturday, March 14, 2009

Akidah ahlul sunnah wal jama’ah mengenai ayat muhkamat dan mutasyabihat

Akidah ahlul sunnah wal jama’ah mengenai ayat muhkamat dan mutasyabihat
Al Quran dan hadis merupakan asas pegangan akidah mereka (aswj) sedangkan kedua sumbir tersebut mengandungi banyak ayatnya . Manakala ayat ayat yang diturunkan itu, sebahagiannya terbahagi kepada ayat muhkamat (yang jelas maknanya)dan sebahagian lagi ada yang berbentuk mutasyabihat (yang kesamaran ) dan mengandungi penyerupaan dengan makhluk) . Sikap mereka (aswj) terhadap dua bahagian ayat tersebut tidaklah sama , kerana mereka beriman dan menerima dengan semua ayat atau lafaz yang diturunkan dan mengakui semuanya adalah kebenaran yang datang dari Rabb (Tuhan) mereka dan menerahkan makna ayat yang mutasyabih (mengandungi kesamaran) itu kepada Allah tanpa atau memberi pengertian yang sama dengan maksud ayat muhkam yang lain , sebagai contoh Allah berfirman bermaksud “ Tuhan yang Rahman itu beristawa atas ‘arasyNya “ Taha ayat 5 mereka beriman dengan ayat tersebut dan mengakuinya tetapi mereka tidak berani memaknakan perkataan istawa itu dengan bersemayam yang member arti bersamaan Allah dengan makhlukNya . kerana lafaz istawa itu mengandungi bayak makna dan tujuannya seperti firmanNya bermaksud “dan bila Musa sampai keperingkat umurnya yang matang (cukup kekuatannya), Kami beri kepadanya kebijaksanaan dan ilmu pengtahuan al Qasas 14 dan firmanNya lagi bermaksud “dan bahtera Nuh pun berlabuh diatas gunung judi “Hud 44 dan banyak lagi contoh dari Quran hadis syair dan bahasa arab bermaksud “ sesungguhnya telah berkuasa(istawa) Bisyrun atas nageri Iraq + tanpa berlaku sebarang pertumpahan darah dan kekerasan “ . Ini semua membuktikan bahawa perkataan istawa itu sediri mengandungi banyak makna yang perlu disesuaikan dengan ruang dan kadaan tertentu. Sebab itu dikira suatu penyelewengan dan kesesatan besar dalam agama, kiranya ada mereka yang mengambil makna dan arti bagi perkataan istawa itu dengan arti dan makna yangboleh membawa kesamaran dan menyerupai Allah dengan makhlukNya, seperti istawa itu diberi makna bersemayam yang sesuai dengan kedudukan bersemayam raja atas singgahsananya .Manakala makna perkataan istawa itu harus di pakai makna tadi (menguasai) yang sesuai dengan kebesaran Allah selaras dengan firmanNya bermaksud “ Dialah Tuhan yang Maha berkuasa atas segala hamba dan makhlukNya termasuk arasyNya “ al An’am 18&61. Inilah apa yang dikatakan tafsir Quran dengan Quran atau mentakwelkan kalimah yang mutasyabih dengan takwelan yang ditunjukkan Allah dalam Quran kitabNya sendiri kaedah takwelan seperti ini yang harus diterima , kerana itulah takwelan yang di beri tahu Allah yang Maha mengtahui firmanNya bermaksud “ tiada yang tahu takwelan selain Allah “al Imran 7 firmanNya lagi bermaksud “ mereka yang dalam hatinya ada berpenyakit zaihg (menyeleweng) pasti mengikut apa yang kesamaran daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan mencari takwelannya (yang boleh melahirkan kesamaran ) al Imran 7 dan sabda Rasulullah saw. Bila ada mereka yang terbawa-bawa dengan perkara yang kesamaran , maka itulah orang yang dimaksudkan dalam ayat tersebut , maksud hadis. Pengeliruan yang mereka (kaum musyabbihah ) bawa ialah kononnya mereka benar-benar menerima dan beriman dengan Quran termasuk dengan maknanya yang mutasyabih dan mengelirukan ,lantaran inilah mereka beri’tikad Allah bertangan bermuka bertempat berjihat dan sebagainya kerana kata mereka ini semua datang dalam Quran , tidakkah mereka sedar bahawa ayat yang menafikan persemaan Allah dengan makhlukNya amatlah jelas dan qat’i. Seperti firmanNya dalam ayat 11 dari surah syura yang bermaksud “ tidak ada yang menyerupaiNya suatu pun “ begitu juga pada ayat 4 surah ikhlas .

Ini semua merupakan amaran kepada mereka yang berdegil mempertahankan makna-makna yang kesamaran tadi bagi Tuhannya ,kata mereka lagi kenaapa asy’ariyin mengisbatkan ada bagi Allah itu sipat mendengar dan melihat dan tak mahu mengisbatkan bagiNya tangan ,mata, muka, dan lain seperti apa yang datang pada Quran dan hadis , ASWJ menjawab kita mengisbatkan bagi Allah itu hanyalah segala sipat yang kesempurnaan sahaja , dan menafikan dariNya segala kekurangan . Jadi perlulah dijelaskan disini antara dua sipat tersebut amatlah jauh perbezaannya , kerana bila Allah melakukan sesuatu melalui atat seperti menciptakan dengan tangan atau melihat dengan mata mendengar dengan telinga ,maka ini semua menambah lagi kekuranganNya , sedangkan sipat kekurangan itu mustahil daripadanya. Berlainan dengan melihat dan mendengar tadi kerana ini adalah sipat kesempurnaan bagiNya kerana mustahil daripadaNya sipat buta tuli dan kelu ,kerana ini sipat kekurangan sedangkan Allah ternafi daripadaNya segala kekurangan dan sabit bagiNya segala sipat kesumpurnaan sesuai dengan kebesaranNya .Semuga dengan penjelasan ini mereka yang terpengaruh dengan pengeliruan kumpulan musyabbihah itu akan sedar dan insaf dan segera bertaubat dari akidah mereka yang sesat selama ini yang banyak disebarkan dalam blog-blog di internet atas nama-nama yang menarek dan mempesunakan orang awam .